Catatan Sebelum Tidur: Househusband

Guidosblog.com

Foto: Guidosblog.com

Saya lupa bagaimana pembicaraan ini bermula. Tapi yang pasti, ada momen ketika dua teman saya, yang keduanya adalah perempuan, menyatakan bahwa tak masalah bagi seorang suami untuk tinggal di rumah dan mengurus rumah tangga selama ia masih bisa menghasilkan uang di rumah.

Secara spontan, saya mengatakan kalau saya mau jika suatu hari nanti harus seperti itu.

Lalu keduanya secara bersamaan mengatakan, “Janganlah, lo bisa lebih baik daripada itu kok.”

Saya pun bingung.

Apa yang salah dengan menjadi househusband selama ia bisa menafkahi keluarga? Mengapa ia dipandang tak cukup baik jika dibandingkan dengan lelaki-lelaki lain yang bekerja secara normal di kantor sementara istrinya menanti di rumah?

Karena jujur saja, saya memang punya keinginan untuk seperti itu.

Ide melakukan commuting dari rumah di pinggir kota ke tempat kerja yang mungkin ada di tengah kota memang sudah saya usir jauh-jauh dari benak saya sejak saya masih kuliah. Selain karena itu melelahkan, saya tak mau menjadi bagian dari sistem yang telah berjalan selama bertahun-tahun itu. Oleh karena itu, ide menjadi househusband pun bukan kali ini saja hinggap di kepala saya. Sudah lama gagasan itu muncul dan diam-diam menjadi salah satu cita-cita di masa depan.

***

Saya membayangkan bahwa kelak saya bisa terus bekerja secara telecommuting di bidang tulis-menulis. Penghasilan cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga sehari-hari dan masih cukup juga untuk menabung. Sementara istri pun bekerja secara telecommuting, entah sebagai penulis juga, desainer, atau apapun. Mengingat penghasilan saya secara pribadi sudah cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-hari, penghasilan istri bisa dipergunakan untuk menabung atau untuk berinvestasi demi masa depan keluarga. Sehari-hari kami bekerja di ruangan kerja yang kami set sendiri, dan baru pergi ke kota ketika kami perlu menemui klien, meeting dengan rekan bisnis, dan hal lainnya yang berkaitan dengan pekerjaan. Tak perlu berebutan naik kereta atau bus setiap pagi karena waktu kerja dan waktu meeting yang bisa fleksibel.

Pilihan kami untuk bekerja secara telecommuting harus diseimbangkan dengan kegiatan lainnya yang membuat aspek sosial kami sebagai manusia tetap bekerja, dan karena itu, kami harus aktif juga berkegiatan di komunitas atau hadir di acara-acara yang menarik, yang membuat kami tetap bisa menjaga agar lingkup sosial kami tetap luas tanpa harus terkungkung dengan tanggung jawab pergi ke kantor dan bertemu rekan-rekan kerja.

Bertemu dengan orang yang sama setiap hari mungkin akan memunculkan kebosanan, karena itu, hal tersebut harus dibunuh dengan menghadirkan dinamika kegiatan sehingga hubungan tersebut tetap sehat. Mengerjakan proyek iseng-iseng berdua, misalnya. Atau melakukan sesuatu yang baru bersama setiap minggunya. Atau menciptakan tantangan-tantangan baru untuk bisa dikalahkan setiap bulannya. Stagnansi harus dibuang jauh-jauh sehingga hubungan tetap sehat meski hampir selalu bertemu setiap harinya.

Membuat bisnis kecil rumahan yang bisa mengisi kegiatan sehari-hari mungkin juga bisa membantu. Misalnya saja, suatu hari, cita-cita saya untuk memiliki sebuah perpusatakaan-records store-kafe-movie box-mini seperti Kineruku terwujud. Kami berdua pun mengelolanya setiap hari, sehingga di samping pekerjaan yang bisa kami lakukan secara telecommuting tadi, kami juga memiliki pekerjaan lain berupa mengelola perpusatakaan-records store-kafe-movie box-mini. Di tempat ini pula, kami bisa membentuk komunitas baru sehingga lingkup sosial kami bisa semakin besar. Aspek sosial kami sebagai manusia pun terjaga.

***

Apakah kehidupan sebagai househusband dalam keluarga seperti gambaran di atas tak sebaik kehidupan pekerja kantoran? Saya tidak tahu bagaimana penilaian Anda, tapi saya kurang setuju dengan pendapat tersebut. Saya pikir, kehidupan yang seperti ini justru lebih manusiawi ketimbang hidup dalam sistem yang mengekang kita harus melakukan hal yang sama, lima hari dalam seminggu.

Tapi memang tak semua orang bisa pas dengan kehidupan yang jauh lebih ‘sepi’ seperti itu, tak semua lelaki cocok untuk menjadi househusband. Saya tahu ada orang-orang yang mengagung-agungkan kehidupan normal di mana seseorang bekerja di kantor, delapan jam setiap hari, naik pangkat setiap beberapa tahun, lalu menjalani kehidupan yang normal dengan gaji yang cukup besar. Dan itu bukan masalah. Setiap orang memang memiliki porsinya sendiri-sendiri.

Namun yang jelas, kehidupan yang tak normal-normal amat sebagai househusband juga tak lebih buruk ketimbang menjadi pekerja normal.

Dan kehidupan yang tak normal-normal amat itu, sepertinya, adalah salah satu cita-cita saya di masa depan.

Advertisements

7 thoughts on “Catatan Sebelum Tidur: Househusband

  1. Salam kenal. Ah saya seperti menemukan oase membaca tulisan ini. Inilah sebenarnya apa yang saya impikan. Bekerja dari rumah sebenarnya juga sudah menjadi wacana di banyak negara dan seharusnya Indonesia atau setidaknya Jakarta (Perusahaan-Perusahaan di Jakarta) sudah harus memulai (setidaknya) memikirkan hal ini. Tapi apa yang mas Ekky Rezky lakukan sangat menginspirasi dan saya salut akan keberanian anda melakukan hal ini. Barang kali bisa menjadi cikal bakal usaha sendiri. Semoga.

    • Semoga! Sebetulnya bukan cuma wacana, sudah dilakukan banyak orang. Masalahnya, popularitasnya belum besar. Orang belum benar-benar memandangnya sebagai salah satu pilihan hidup. 🙂

  2. halo tetangga.. saya ijin mampir hehe
    dan orang yg memutuskan tuk bekerja dirumah seperti itu dipastikan punya mental tangguh, karna punya referensi/wacana hidup yg lebih luas dri pengalaman orang lain.
    apalagi skill-nya, mesti sudah terasah karna bisa jdi penghasilan.
    keren Ky!

  3. haha , mampir ke blog ini atas saran Hasby dan menemukan tulisan dan istilah menarik “househusband” !!
    yes i’m a proud househusband haha (saya arsitek , istri saya bekerja mengajar di kampus) , bermodal jaringan internet : thanks to gmail ; dropbox ; skype ; slack ; prezi etc.
    dulu tantangan terbesar malah dari ortu sendiri waktu memutuskan resign dari perusahaan dan memutuskan bikin start-up studio sendiri. waktu itu sampai akhirnya menyewa tempat kerja ,agar masih terlihat ada kegiatan berangkat kerja & pulang kerja tiap hari haha! Tapi setelah akhirnya bisa buktiin ada hasilnya + bisa buat punya rumah sendiri + merit, ya sudah. sekarang kerja tiap hari ya dari rumah, atur waktu kerja sendiri, say goodbye to jogja’s traffic yg semakin menggila. Keluar rumah kalau pas lagi butuh saja.
    pokoknya kalo pengen ya lakuin aja. masalah rezeki udah ada yg ngatur itu selama kita siap kerja keras. Kerja keras tanpa harus sering-sering keluar rumah 🙂

    viva househusband!!

    nb: dan sampai sekarang tetangga-tetangga sebelah rumah masih mengira saya pengangguran :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s