[Review] Avengers: Age of Ultron

avengers-age-of-ultron-comic-con-14-poster-full-hd

Peringatan: Ada ranjau spoiler di depan. Kalau malas kena spoiler, lebih baik jangan meneruskan baca,

Avengers: Age of Ultron mendapatkan budget yang sangat besar dengan promosi besar-besaran pula, dan membuat film ini sangat ditunggu-tunggu. Meski sangat dinanti, ada ketakutan bahwa film ini pada akhirnya akan mengecewakan hati, terutama kalau kita melihat pada apa yang terjadi pada franchise Transformers, yang kini hanya sekadar mengandalkan efek ledakan dan penghancuran kota yang dramatis ketimbang mengedepankan unsur cerita dan karakter tokoh.

Jika melihat materi promosi Age of Ultron, ketakutan itu tentu beralasan. Mulai dari trailer yang memperlihatkan pertarungan Hulk vs Hulkbuster hingga poster film yang memberikan sedikit bocoran tentang apa yang akan terjadi di film ini: sebuah perang besar antara Avengers dan Ultron. Tentu saja kita juga bisa berkaca pada bagaimana Avengers pertama juga mengedepankan efek kehancuran kota yang luar biasa dengan perang antara para pahlawan super melawan pasukan Chitauri. Tetapi toh The Avengers tetap menarik karena unsur ceritanya yang bagus, dan karakterisasi para tokoh yang cukup kuat. Tentu tak ada yang bisa melupakan bagaimana Tony Stark mengorbankan dirinya sendiri agar wormhole bisa tertutup sempurna, kan?

Dan penceritaan yang baik dengan penokohan yang kuat ini pula yang terjadi di Age of Ultron. Bahkan sebetulnya, Age of Ultron ini lebih menarik ketimbang Avengers pertama, karena kali ini, Avengers memiliki lawan dengan karakter yang lebih kuat dan kelam dalam diri Ultron. Ultron sebagai jelmaan kelam ide dan karakter Tony Stark memberikan Avengers tantangan dengan level yang berbeda ketimbang Loki, seorang villain yang lemah dan akhirnya hanya mengandalkan Chitauri yang lepas kendali di The Avengers. Meski kedua film ini menghadirkan perang yang serupa, yaitu masing-masing musuh Avengers menang dalam hal jumlah, tetapi melihat bagaimana Avengers bertarung menghadapi pasukan Ultron yang lebih memiliki kepribadian ketimbang Chitauri tentu lebih menarik.

Hal lainnya yang juga sangat menarik dari Age of Ultron adalah bagaimana masing-masing anggota Avengers mendapatkan porsi penceritaan yang hampir seimbang. Tony Stark sebagai Iron Man, tokoh dengan franchise film tersukses di antara tokoh Avengers lainnya di Marvel Cinematic Universe, memang tetap menjadi sentral cerita film ini, tetapi porsi tokoh yang sebelumnya agak tertutupi seperti Clint Barton (Hawkeye) ditingkatkan di film ini. Saya sangat menyukai sentuhan romantisme dan kemanusiaan Barton, satu dari dua anggota Avengers yang tak memiliki kekuatan super atau teknologi super (selain Black Widow aka Natasha Romanova), yang ditampilkan di Age of Ultron.

Pembicaraan singkat Barton dan istrinya tentang Avengers yang tercerai berai dan tentang ketakutan Barton terkait apakah dirinya dibutuhkan oleh para pemilik kekuatan super itu adalah salah satu bagian paling menarik dari Age of Ultron. Adegan ini (juga pembicaraan soal “melawan robot berkekuatan super hanya dengan bermodalkan panah dan busur” dengan Scarlet Witch) seakan mengajak kita memikirkan bagaimana dilema Barton di tim yang berisikan para “manusia setengah dewa”. Ini adalah sisi menarik dari Age of Ultron, dan upaya Joss Whedon untuk mengedepankan Hawkeye dalam film ini pun patut untuk dipuji.

Memang sisi humanis dari Age of Ultron sedikit mengambil korban: bahwa film ini tak selucu atau semenyenangkan The Avengers atau film-film Marvel lainnya jelas tidak bisa dipungkiri. Tapi apakah itu adalah masalah besar? Tidak, karena pada akhirnya Age of Ultron pun tak terasa hambar. Film ini, bagi saya, malah lebih kaya rasa ketimbang film-film Marvel lainnya – terkecuali Guardians of the Galaxy, film Marvel yang menurut saya tetap yang terbaik sejauh ini.

Whedon, yang memutuskan untuk meninggalkan Marvel Cinematic Universe, juga memberikan kado perpisahan untuk MCU: sebuah gerbang untuk membuka MCU lebih lebar lagi. Whedon seakan mengajak penonton masuk lebih dalam ke MCU dengan cara memasukkan beberapa karakter baru sekaligus: Scarlet Witch, Quicksilver, dan tentu saja Vision. Kehadiran War Machine alias James Rhodes, yang selalu muncul di film Iron Man, dan juga Falcon alias Sam Wilson, yang sebelumnya muncul di film Captain America: The Winter Soldier, juga membuat film ini semakin penuh dengan para pahlawan super. Ini seperti memberikan babak baru bagi Avengers sebagai sebuah tim para superhero yang tak eksklusif di MCU, dan membuka gerbang bagi hadirnya kisah spin-off lain. Age of Ultron pun mengajak para penonton, yang sebagian besarnya bukan penikmat komik, untuk masuk lebih dalam dan mengenal Marvel Universe.

 

Ps. Terima kasih untuk para selebtweet yang mengatakan kecewa dengan Age of Ultron setelah menonton pemutaran perdana film ini di Indonesia pada 21 April kemarin. Saya bisa masuk ke bioskop dengan ekspektasi serendah-rendahnya dan menonton film ini dengan kepuasan setinggi-tingginya. Hell, I almost jumped out of my chair when Vision came out!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s