Menyebut Chelsea “Juara yang Membosankan” Adalah Hal yang Tidak Adil

Apakah Eden Hazard memang pantas mendapatkan penalti dalam laga Chelsea melawan Crystal Palace malam tadi (3/5/2015)? Sebagian orang, yang melihat kejadian itu dalam tayangan lambat, akan mengatakan tidak. Thierry Henry menyebutnya penalti, dan menyebut bahwa Hazard ‘cerdas’ karena berusaha membuat kontak dengan James MacArthur ketika posisinya sudah sulit. Rekannya sesama pandit Sky Sports, Jamie Carragher, berpendapat bahwa memang terjadi kontak antara kedua pemain, tepatnya di lutut, yang membuat Hazard kehilangan keseimbangan. “Itu penalti,” katanya. Meski jutaan orang lainnya di dunia maya mungkin kurang  setuju dengannya.

Jika melihatnya secara langsung, rasanya wasit Kevin Friend memang tak punya pilihan lain selain memberikan Hazard penalti. Bagaimanapun, insiden ini melibatkan pemain yang paling sering dilanggar di Premier League (105 kali), di mana sang pemain diapit oleh dua pemain sekaligus dan dalam posisi berbahaya di depan gawang lawan. Pemain yang merupakan yang terbaik di Premier League musim ini.

Chelsea-v-Crystal-Palace

Momen ini memang seperti tercipta untuk seorang Eden Hazard. Ini adalah keahliannya; ketika Chelsea sedang dalam posisi kesulitan dan sangat membutuhkan gol untuk mengunci gelar juara, Hazard muncul dengan keahliannya dalam menggiring bola, membuat pergerakan berbahaya di kotak penalti lawan, dan kemudian dilanggar. Sudah sewajarnya pula ia yang mengeksekusi penalti tersebut. Siapa lagi yang lebih pantas untuk menciptakan gol yang memastikan gelar juara Chelsea selain seorang Eden Hazard?

Hazard memang gagal mengeksekusinya dengan baik. Sejujurnya, itu adalah tendangan penalti yang buruk. Untuk pertama kalinya penalti Eden Hazard di Premier League gagal menjadi gol. Tapi ia sukses memanfaatkan bola liar yang agak melambung itu dengan menyundulnya ke pojok gawang. Ke sisi yang sama dengan arah tendangan penaltinya yang gagal. Dan membuat Julian Speroni tak bisa berbuat apa-apa karena ia mengira Hazard akan mengarahkannya ke sisi yang lainnya, yang lebih dekat dengan bola.

Hazard tahu, mencetak gol penting seperti ini memang merupakan tugas pemain terbaik sepertinya. Ia juga mungkin tahu, mencetak gol yang memastikan gelar juara lewat tendangan penalti sebetulnya kurang asyik. Maka ia pun sedikit mengubahnya menjadi gol lewat bagian tubuh yang paling jarang ia gunakan untuk mencetak gol…

***

Juara yang membosankan adalah status yang paling banyak diberikan oleh banyak kalangan untuk Chelsea. Julukan ini, terutama, muncul setelah kurang dari 12 jam sebelumnya, Floyd Mayweather Jr. juga mendapatkan julukan serupa setelah pertahanan solidnya dan counter-attacknya yang cerdas membuatnya menang angka mutlak atas Manny Pacquiao, ‘The People’s Champ’, di MGM Grand Garden Arena, Las Vegas. Gaya bertahan Mayweather dicemooh, dan para penggemar sepakbola pun menyama-nyamakan gaya Mayweather dengan gaya Chelsea-nya Jose Mourinho (walau panutan kita semua, Pangeran Siahaan, sudah menuliskannya sehari sebelumnya).

“Tim yang ‘membosankan’ ini adalah tim dengan jumlah gol terbanyak kedua di Premier League, dan tim dengan selisih gol terbaik. Hanya Manchester City yang mencetak lebih banyak gol daripada kami. Jadi, saya pikir kami mencetak banyak gol dan, di periode ketika kami tidak memiliki Diego Costa atau Loic Remy dan kami hanya memiliki satu striker, kami sedikit mengubah gaya dinamis kami dan kami tidak mencetak gol sebanyak sebelumnya. Tetapi, tetap saja, kami memiliki jumlah gol terbanyak kedua.”

Itu adalah pembelaan yang diberikan oleh Jose Mourinho setelah timnya disebut membosankan oleh fans Arsenal dalam laga menghadapi The Gunners satu minggu yang lalu, dan ia memang benar. Chelsea adalah tim dengan jumlah gol terbaik kedua di liga (69 gol), tim dengan selisih gol terbaik di liga (+42), dan tim yang menciptakan peluang terbanyak kedua di liga (428 peluang). Pada akhirnya, jumlah angka Chelsea adalah yang terbanyak di liga dan tak akan bisa disusul oleh tim-tim lainnya di Premier League. Dan kita tahu, kompetisi memang ditentukan oleh angka-angka seperti ini, dan bukan dengan permainan indah yang bisa dinikmati oleh mata telanjang kita. Ini yang juga terjadi di laga Mayweather vs Pacquiao kemarin. Statistik yang dirilis oleh CompuBox, penyedia jasa statistik di olahraga tinju, jelas menunjukkan bahwa Mayweather, yang belum pernah terkalahkan di sepanjang kariernya, memang unggul telak atas lawannya dari Filipina itu, Lalu kita, sebagai penonton, bisa apa? Hanya menggerutu, mungkin.

Tetapi mengatakan bahwa Chelsea adalah juara yang membosankan sebetulnya kurang adil karena seakan kita hanya mengingat Chelsea sebagai tim yang memang sangat sulit untuk ditonton di paruh kedua musim ini. Ingatan kita tentu tidak pendek-pendek amat untuk dengan segera melupakan Chelsea di awal musim – Chelsea-nya Jose Mourinho dalam versi berbeda. Chelsea yang jauh lebih menghibur, dengan permainan yang bahkan, menurut eks kolumnis Bolatotal,com, Renalto Setiawan, lebih menghibur ketimbang tiki-taka Barcelona dahulu kala. Ini adalah masa-masa yang sungguh indah bagi para penggemar Chelsea (dan juga untuk mereka yang bukan penggemar Chelsea tapi menyaksikan pertandingan Chelsea di awal musim). Chelsea bermain sebagai tim yang ofensif dengan duet Cesc Fabregas dan Diego Costa sebagai bintangnya. Tetapi kemudian muncul masalah ketika Costa mulai menghadapi problem yang sudah muncul sejak sebelum ia bergabung dengan The Blues: cedera.

Ini diperparah juga dengan masalah menahun Cesc Fabregas: ia ternyata kerap mengalami penurunan performa di paruh kedua musim. Hal yang juga terjadi saat ia di Arsenal maupun di Barcelona dulu. Ketika dua pemain yang menjadi sumbu utama permainan ofensif nan kreatif di awal musim mengalami penurunan performa, Jose Mourinho pun mengambil keputusan penting. Ia mengubah gaya bermain Chelsea yang mengalir itu menjadi lebih defensif, lebih pragmatis. Jose Mourinho kembali menjadi Jose Mourinho. Kemenangan adalah yang terpenting, permainan cantik hanyalah bonus. Dan kita tahu, Jose Mourinho adalah yang terbaik di bidangnya untuk permainan seperti ini.

“Possession and tippy-tappy football’s great, but if you are not winning games you’re not going to win the league.” – John Terry

Pada paruh kedua musim ini, lebih tepatnya mulai Desember lalu, Chelsea pun mengubah gayanya menjadi lebih pragmatis. Kemenangan adalah segalanya. Imbasnya, mereka bermain dengan lebih hati-hati, dengan mengandalkan pertahanan sebagai kekuatan utama mereka. Terlebih lagi ketika mereka harus menghadapi tim-tim di lima besar. Kemenangan memang tetap menjadi target utama, tetapi yang terpenting bagi mereka adalah jangan sampai kalah. Itu yang sepertinya menjadi filosofi Mourinho jika timnya menghadapi Manchester City, Manchester United, Arsenal, atau Liverpool.

Apakah ini kemudian bisa disebut sebagai borok Chelsea sebagai juara Premier League 2014/15? Ketimbang melihatnya seperti itu, yang berarti melihatnya dari sudut pandang penonton yang kerap terkantuk-kantuk saat menonton mereka bertanding di sepanjang tahun 2015 ini, kenapa tidak melihatnya sebagai kecerdasan Jose Mourinho untuk membawa timnya menjadi juara?

Mourinho tahu bahwa tidak ada gunanya memaksakan diri agar timnya tetap bermain cantik seperti di awal musim jika di akhir musim, mereka tidak bisa menjadi juara. Mourinho tahu saat yang pas untuk mulai mengganti gaya ofensif itu menjadi lebih pragmatis, dan mengejar tiga poin untuk membuat mereka tidak terkejar hingga musim berakhir nanti. Itulah yang dilakukan oleh juara. Layaknya Mayweather dalam pertarungan melawan ‘Pacman’ kemarin, bukankah yang terpenting adalah meraih gelar juara, tak peduli walau ribuan orang di MGM Arena dan jutaan lainnya di seluruh dunia mengecam gelar juara itu?

“You know, ‘boring’ I think is 10 years without a title: that’s very boring. You support a club and you’re waiting, waiting, waiting for so many years without a Premier League title, so that’s very boring.” – Jose Mourinho

Lagipula, bukankah di awal musim Chelsea sudah menunjukkan bahwa jika mereka dalam kondisi terbaik, mereka pun bisa bermain indah?

Tidak adil rasanya jika kita hanya mengingat Chelsea sebagai juara yang membosankan hanya karena permainan mereka di paruh kedua musim ini saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s