Allegri

2247206_w2

Dengan senyumnya yang lebar dan lucu serta kegemarannya untuk berteriak “Dai! Dai!” dari pinggir lapangan, Massimiliano Allegri adalah sosok yang mudah sekali menjadi bahan guyonan di dunia maya. Apalagi, ia juga bukan sosok dengan kharisma layaknya Carlo Ancelotti, ketegasan yang kadang menakutkan seperti Jose Mourinho, atau antusiasme tinggi yang mengajak semua orang di sekitarnya memompa adrenalin seperti Antonio Conte dan Juergen Klopp. Melihat fisik dan perilakunya, Allegri memang tak memiliki pesona yang membuatnya mudah dihormati sebagai pelatih jempolan.

Belum lagi dengan latar belakangnya yang tak mentereng-mentereng amat. Karena itu, bukan hal mengherankan jika ia selalu diragukan. Bahkan meski pernah mengantar AC Milan menjadi scudetti sekalipun, ia tetap diragukan. Termasuk ketika ia menggantikan Antonio Conte sebagai pelatih Juventus. Orang tak pernah mengingatnya sebagai pelatih medioker yang sukses membawa Milan meraih gelar juara liga di musim pertamanya, tidak juga mengingat kesuksesannya membawa Rossoneri tetap di dua besar klasemen akhir kompetisi domestik meski ditinggal dua bintang utama timnya di depan dan di belakang. Orang lebih mengingatnya sebagai pelatih gagal yang tak punya banyak ide ketika menjalani musim ketiga dan keempatnya di kota mode. Orang masih mengingatnya sebagai pelatih medioker.

Ia dihujat. Mobil yang ia tumpangi untuk menuju konferensi pers pertamanya sebagai pelatih Juventus diteriaki, dan kabarnya juga dilempari serta ditendangi. Masa ya pelatih gagal bermental medioker sepertinya bisa menggantikan pelatih sukses dan eks pemain legendaris klub, Antonio Conte?

Allegri tetap sabar. Ia yakin dirinya memang pantas berada di Juventus, klub terbesar dan tersukses di Italia. Ia yakin dirinya bisa mengemban tugas yang diamanahkan kepadanya. Walau banyak orang tak mempercayainya.

10 bulan berlalu dan Allegri bisa merasa puas karena ia sukses melakukannya. Dengan brilian.

Tak hanya meneruskan prestasi Conte, Allegri berhasil melampaui capaian pendahulunya tersebut. Selain gelar scudetto telah dikunci, Si Nyonya Tua juga berhasil melaju ke final Liga Champions Eropa. Sesuatu yang tak pernah bisa dicapai oleh Conte di sepanjang kariernya sebagai allenatore Juve. Conte bahkan tak sekalipun berhasil membawa timnya melaju ke empat besar. Selain itu, Allegri juga masih berpeluang untuk membawa Carlos Tevez dkk. meraih tiga gelar, padahal kita sudah memasuki pertengahan Mei. Di era Conte, skenario treble sudah berakhir di bulan April (2012/13) dan Januari (2013/14).

Kemenangan atas Real Madrid di semifinal dalam dua leg yang berakhir dini hari tadi (14/5/2015) menjadi semacam peneguhan, bahwa musim ini adalah musimnya Allegri. Gelar juara mungkin belum dicapai, tetapi bisa melewati juara bertahan sekaligus tim yang memiliki pemain terbaik dunia dan pemain termahal dunia di dalamnya adalah prestasi besar bagi tim yang dipandang sebelah mata oleh bursa taruhan hanya karena mereka berasal dari Serie A, kompetisi nomor empat di Eropa saat ini. Bahkan orang-orang Italia sendiri sebetulnya tak yakin dengan peluang juara mereka sendiri di kompetisi Eropa – final Coppa Italia awalnya dijadwalkan 7 Juni, hanya satu hari setelah final Liga Champions Eropa. Kini, mereka harus memindahkannya ke 20 Mei 2015, karena Juve akan berlaga di Berlin. Semuanya karena Allegri. Karena kemenangannya atas para pencercanya.

CE6fKnIWIAExx8n

Dan atas prestasinya ini, Allegri bolehlah berbangga hati. Juga berpuas diri. Juventus mungkin belum juara dan mereka masih akan tetap menjadi underdog di final menghadapi Barcelona nanti, tapi Allegri boleh berbangga. 10 bulan dan ia telah sukses menjawab semua keraguan yang dialamatkan kepadanya. 10 bulan dan kini ia dipuja. Suatu hari nanti, ia mungkin akan kembali dicerca, karena kesuksesan tak akan selamanya datang dan Allegri tak memiliki pesona yang bisa membuat orang menahan diri mengejeknya ketika ia gagal. Tetapi untuk saat ini, ia boleh berpuas diri. Ia boleh berbangga hati. Karena tidak setiap hari Anda bisa menghadapi Real Madrid tanpa rasa takut, mengalahkan mereka, dan melaju ke final Liga Champions Eropa. Karena bahkan pelatih legenda macam Conte pun tak mampu melakukannya.

Advertisements

One thought on “Allegri

  1. Sebagai salah satu penggemar klub Milan, saya tak melihat Allegri sebagai pelatih medioker.
    Dia gagal mempertahankan prestasi scudetto — dengan faktor eksternal, itu bukan rahasia lagi. Tapi Allegri bukan pelatih medioker.

    Bukan prestasi atau kegagalan yang saya jadikan patokan kenapa ia tidak disebut pelatih medioker, melainkan ia memiliki pribadi yang cenderung diam — kurang ekspresif. Tapi itu hanya yang terlihat saja. Karena yang tak terlihatnya justru lebih banyak. Dan, itu pula yang mengantarkan ia dari Cagliari (konon “dipecat”) ke AC Milan. Sebuah talenta untuk menggabung-gabungkan talenta spesial menjadi tim juara, serta mempertahankan tim juara ke dalam performa terbaiknya. Dan yang paling penting, tim yang seharusnya jauh dari campur tangan eksternal manajerial/kepelatihan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s