5 Alasan Mengapa Netflix’s Daredevil Adalah Serial Pahlawan Super Terbaik

daredevil-netflix-series-season-1-banner-poster

Setelah menolaknya selama bertahun-tahun, akhirnya pesona superhero masuk juga ke dalam kehidupan saya, dan membuat saya kian tertarik untuk menyelami dunia para pahlawan super buatan Amerika. Beruntung, kita hidup di era ketika kisah para pahlawan super ramai diangkat ke layar perak dan televisi, dan dari sana lah saya jadi bisa mulai mengikuti cerita mereka. Ini tentu cara yang lebih hemat waktu ketimbang harus menyelami kisah mereka di komik, yang rentangnya amat jembar karena sebagiannya telah dikisahkan sejak tahun 1940an atau 1950an. Belum lagi dengan banyaknya spin-off. Entah kenapa DC dan Marvel, dua produsen superhero utama dunia komik Amerika, doyan sekali membuat spin-off dari pahlawan-pahlawan mereka, sehingga sangat sulit untuk mengikutinya secara runtut dari awal hingga akhir.

Pahlawan super sebagai tema film mungkin sudah muncul sejak lama, tapi mengangkatnya ke layar televisi bukan hal yang sering dilakukan. Inilah yang membuat satu dekade terakhir begitu menarik: ada banyak judul serial televisi besar yang bertema pahlawan super. Heroes adalah serial tv pahlawan super pertama yang saya tonton – serial tersebut keluar di Amerika pada tahun 2006, dan sukses besar.

Tapi Heroes jelas bukan yang pertama. Sebelum itu, yang paling terkenal adalah Smallville, serial yang menceritakan tentang kehidupan Clark Kent alias Superman saat ia masih remaja. Serial ini berlangsung selama 10 musim sejak tahun 2001, dan meraih kesuksesan besar. Namun, meski serial tv pahlawan super sudah populer sejak awal millenium ketiga, baru pada tiga-empat tahun terakhir serial bertema ini ramai dan populer.

Serial-serial pahlawan super yang terkenal saat ini antara lain Arrow (mulai 2012), Agents of S.H.I.E.L.D. (2013), Agent Carter (2014), The Flash (2014), dan yang terbaru, Daredevil (2015). Di antara semuanya, mana yang terbaik?

Jawabannya tentu saja…. Daredevil!

Oke, saya mungkin belum menonton AoS dan Agent Carter sehingga menyebut Daredevil sebagai serial tv superhero belum sepenuhnya meyakinkan karena penilaiannya hanya berdasarkan beberapa yang sudah saya tonton, yaitu Heroes, Arrow, dan The Flash. Tetapi saya yakin, Daredevil jauh lebih baik ketimbang semuanya, Kenapa saya bisa seyakin itu? Ini lima alasan kenapa menurut saya Daredevil adalah yang terbaik…..dan alasan kenapa kamu juga harus menontonnya.

1. Pertarungan nan puitis

Dari semua pertarungan yang dilakoni Matt Murdock sebagai “The Man in the Mask”, pertarungan melawan pembunuh bayaran bernama Rance di episode pertama dan pertarungan melawan Stick dalam perpisahan dengan gurunya tersebut di episode ketujuh adalah yang paling menarik, juga puitis. Pertarungan di episode pertama melawan Rance terlihat begitu  dengan efek slow motion yang memperlihatkan bagaimana Matt menggunakan indra pendengarannya untuk menggantikan mata. Sementara pertarungan melawan Stick….. apa yang lebih puitis ketimbang pertarungan guru-murid yang memiliki ikatan panjang namun memiliki dua paham moralitas yang berbeda?

2. One-Shot Fight

Satu momen yang membuat Daredevil menjadi serial yang banyak dibicarakan dan populer adalah ketika sutradara dua episode pertama serial tersebut, Phil Abraham, memutuskan untuk melakukan one-shot fight selama lima menit di dalam lorong salah satu markas komplotan mafia Rusia di Hell’s Kitchen. Pertarungan yang sedikit mengingatkan saya akan one-shot fight dalam lorong markas penjahat di film Oldboy (Korea Selatan).

Pertanyaan pasca melihat adegan hebat seperti ini tentu saja…. Kok bisa?!

3. Satu Musim, Satu Cerita

Berbeda dengan The Flash yang melibatkan begitu banyak penjahat dengan kemampuan super (metahuman) berbeda di hampir setiap episode, Daredevil memberikan kesatuan utuh tentang bagaimana ia menghadapi organisasi bawah tanah yang didalangi oleh Wilson Fisk. Tentu saja, setiap episode pasti memiliki tema yang berbeda dengan kesatuan cerita yang agak berbeda – episode pertama ia menghadapi Rance, episode kedua adalah soal ia menyelamatkan seorang anak dari komplotan Rusia, dan seterusnya, tetapi semuanya terkait betul dengan cerita utamanya. Kompleksitas cerita sudah dimunculkan sejak awal.

4. Penjahat pun Punya Cerita

Salah satu yang menonjol dari diri Wilson Fisk adalah ke-awkward-an dirinya ketika berbicara. Ini yang menarik darinya. Jika seorang penjahat dalam cerita superheroes biasanya menonjolkan kepercayaan diri yang berlipat-lipat, Fisk sebaliknya. Ia terlihat seperti seorang yang rendah diri, bahkan ketika berbicara dengan partner bisnisnya sekalipun.

Ini tentu menarik. Apalagi, Daredevil sukses menghadirkan Fisk bukan hanya sebagai penjahat biasa. Serial ini berhasil menghadirkan potret bagus Wilson Fisk sebagai panjahat yang memiliki motif, kisah, dan kepribadian yang membuatnya spesial. Yang berbeda dengan, misalnya, Eobard Thawne, Slade Wilson, atau Ra’s Al Ghul.

Jarang rasanya melihat ada serial yang repot-repot menceritakan bagaimana penjahatnya jatuh cinta…

5. Dialog dan Pergulatan Identitas yang Kompleks

Salah satu yang saya kurang sukai dari The Flash dan Arrow adalah dialog yang lemah. Daredevil menghadirkan dialog yang lebih kuat dan penceritaan yang kompleks. Demikian juga dengan pergulatan identitas Matt Murdock, mengenai apakah yang ia lakukan benar, dan bagaimana ia berkonsultasi soal hal ini sembari membicarakan tentang agama bersama pastor Lantom. Ini memang yang membuat Daredevil berbeda dengan kebanyakan pahlawan super: Ia adalah seorang Katolik taat, dan itu dikisahkan juga di serial ini.

Advertisements

One thought on “5 Alasan Mengapa Netflix’s Daredevil Adalah Serial Pahlawan Super Terbaik

  1. Pingback: Finale yang Emosional dan Eksplosif dari The Flash | @ekkyrezky

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s