Steven Gerrard dan Semangatnya yang Melegenda untuk Liverpool

24E2976E00000578-2919156-image-a-84_1421799394981 Siapa pemain asli Liverpool yang mendukung Liverpool sejak kecil dan kemudian membela klub tersebut sebagai pesepakbola dan meraih kesuksesan terbesar?

Jawabannya bukanlah Steven Gerrard. Ia adalah Phil Thompson, bek Liverpool yang membela The Reds dari 1971 hingga 1984. Selama di Anfield, ia mencatatkan tujuh gelar divisi utama Liga Inggris, tiga juara Piala Eropa, satu Piala FA, dua Piala UEFA, satu Piala Super Eropa, dan dua Piala Liga. Ketika kecil, Thompson kerap mendukung Liverpool secara langsung di The Kop, karena memang tinggal tak jauh dari Anfield. Selama lebih dari satu dekade, Thompson menjalani hampir 500 pertandingan dengan seragam merah Liverpool. Ia dan rekan-rekannya di lini belakang juga sempat memecahkan rekor dengan hanya kebobolan 16 gol selama satu musim di liga pada tahun 1979. Singkat kata, Phil Thompson adalah salah satu pemeran penting dalam dekade penuh kejayaan The Reds, dan ia adalah lelaki asli Merseyside yang mendukung klub dengan 18 gelar juara liga tersebut sedari kecil.

Tetapi selamanya Phil Thompson tak akan pernah bisa melampaui level kelegendaan Steven Gerrard di Liverpool. Tidak dengan rangkaian gelar juara atau rekor kebobolannya, tidak juga dengan fakta bahwa kecintaan Thompson pada Liverpool mungkin tak akan pernah kalah dengan Stevie G. Bahkan meski Thompson memiliki tujuh gelar juara liga sementara Gerrard nol. Karena kelegendaan Gerrard di Anfield memang bukan semata diukur dengan catatan juara yang pernah ia capai. Status legenda Gerrard dicapai lewat momen-momen yang pernah ia buat, lewat kesan yang mendalam dalam diri rekan-rekannya yang kemudian diceritakan ulang ke media, dan lewat semangat juang yang tak pernah tidak ia tampilkan saat mengenakan seragam dengan logo liver bird di dada kirinya.

Berbicara mengenai momen, Gerrard akan selalu dikenang karena satu momen yang memulai dongeng indah di Istanbul pada tahun 2005, satu dekade yang lalu. Gol cepatnya di awal babak kedua membuat Milan, yang sudah unggul tiga gol di babak pertama, terguncang dan mengembalikan harapan para pemain The Reds serta para suporternya yang hadir hari itu. Gol sundulan Gerrard malam itu mengembalikan peluang Liverpool untuk bangkit.

Dan memang gol cepatlah yang diinginkan oleh Rafael Benitez, manajer Liverpool saat itu, untuk bangkit di 45 menit kedua. “Kita adalah Liverpool FC, kita memiliki begitu banyak fans, kita tidak akan dibantai. Jika kita bisa mencetak gol dengan cepat, kita bisa menekan dari sana,” katanya saat jeda pertandingan. Tidak ada pemain yang lebih tepat untuk melakukan tugas itu selain Steven Gerrard. Gol sang kapten lah yang menjadi awal dari dongeng Istanbul 2005, dan semangat serta penampilannya setelah itu menjadi inspirasi para pemain lain di atas lapangan. Gerrard mungkin bukan pahlawan terbesar malam itu karena Jerzy Dudek lah orangnya – tetapi apa yang lebih menyenangkan hati The Kop selain melihat bocah asli Liverpool, yang mencintai klub tersebut sedari kecil, produk asli akademi klub, dan simbol semangat Liverpool sebagai salah satu klub terbesar dalam sejarah Inggris, menjadi pembeda pertandingan sepenting final Liga Champions dan mengangkat trofi si cuping besar dengan kebahagiaan yang menggelora?

Steven+Gerrard+European+Sports+Pics+Week+fiPuUxhaJogx Meminjam kata-kata Brendan Rodgers (yang selalu memuji habis-habisan sang kapten tapi tak memasukkan namanya dalam 11 pemain terbaik era Premier League pilihannya), Gerrard adalah Liverpool itu sendiri. Bukan hanya sebagai simbol klub, tetapi juga sebagai simbol semangat orang-orang di kota itu. Semangat itulah yang membuatnya bertahan di Liverpool meski datangnya godaan untuk membela klub-klub besar lain, terutama Chelsea. “Saya selalu mengatakan pada diri saya sendiri, ketika saya duduk bersama ayah dan adik saya, bahwa jika saya memenangi beberapa trofi di Liverpool, itu akan jauh lebih berarti bagi saya daripada saya memenangkan 10 gelar di Chelsea atau Inter Milan atau Real Madrid. Rasanya selalu lebih berarti ketika Anda memenangkan gelar untuk orang-orang Anda.”

Semangat yang tak pernah padam memang merupakan kekuatan terbesar Gerrard. Tapi di sisi lain, itu juga lah yang merupakan kelemahan terbesarnya.

Ketika pertama kali berbicara dengan Gerrard sebagai manajer baru Liverpool, Benitez secara terang-terangan mengatakan, “Masalah utama Anda adalah Anda terlalu banyak berlari.” Ia juga pernah menarik keluar Gerrard dari derby Merseyside melawan Everton karena, “Ia bermain dengan semangat (passion) yang terlalu besar.” Inilah kelemahan utama Gerrard: ia terlalu banyak berlari karena ia begitu sering mengejar bola, meski itu membuatnya keluar dari posisinya yang seharusnya. Ia bermain dengan hati, dengan semangatnya, dan itu kadang membuatnya tak mengikuti taktik yang sudah diinstruksikan oleh manajer. Benitez sampai pusing karenanya, dan oleh sebab itu ia memindahkan Stevie G untuk bermain lebih melebar ke kanan. Bermain melebar, Gerrard bisa berlari sebanyak yang ia inginkan tanpa membuat lubang besar di lini tengah tim. Terbukti, setelah dipindahkan dari posisinya tersebut, Gerrard menikmati permainan terbaiknya di sepanjang kariernya. Meski ia sendiri sebetulnya tak sepenuhnya menikmati posisi barunya karena ia selalu berpikir bahwa ia adalah jenderal lapangan tengah tim, yang seharusnya berada di sektor tengah.

“Gerrard was not the brain of the team; that was Xabi Alonso. Alonso could lead the play; Gerrard could lead by example.” – Ken Early in Eight by Eight Magazine.

Tetapi semangat itulah yang membuatnya melegenda di Anfield, rumah yang akan ia tinggalkan musim panas nanti untuk menikmati akhir karier yang hangat di pesisir timur Amerika Serikat nan glamor bersama LA Galaxy. Semangat (passion) adalah tinta karier Gerrard dalam buku sejarah Liverpool, yang membuatnya tak pernah bisa disamai oleh legenda lainnya di klub tersebut. Tidak juga oleh Phil Thompson, Jamie Carragher, atau scousers lainnya yang pernah membela The Reds di sepanjang sejarah klub. Selamanya Steven Gerrard akan menjadi salah satu legenda terbesar Liverpool, meski kariernya tak sepenuhnya mulus – adegan terpelesetnya di Anfield yang membuat peluang terakhirnya untuk menjadi juara liga sirna akan selalu menghantui catatan kariernya bersama klub yang ia bela selama 17 tahun itu. Ia mungkin tak akan pernah bisa disebut sebagai legenda terbesar dan terbaik dalam sejarah Liverpool – ada nama Ian Rush, Kenny Dalglish, Bob Paisley, dan Bill Shankly yang mengantri di depannya dalam daftar tersebut. Tapi tidak berlebihan rasanya jika kita menyebutnya sebagai kapten terbesar dan terbaik yang pernah dimiliki oleh Liverpool. Atau pemain asli Merseyside terbesar dan terbaik yang pernah membela klub tersebut.

Tulisan ini dibuat untuk Yohanna Deony, suporter kelas berat Steven Gerrard yang sepertinya akan menangis malam ini ketika menyaksikan pertandingan terakhir Stevie G di Anfield sembari mengantuk-ngantuk.

Advertisements

One thought on “Steven Gerrard dan Semangatnya yang Melegenda untuk Liverpool

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s