Mad Max: Fury Road yang Mengkhianati Ekspektasi

Mad-Max-Fury-Road-lovely-day

Peringatan: Ada ranjau spoiler di depan. Kalau malas kena spoiler, lebih baik jangan meneruskan baca.

Saya belum pernah menonton tiga film franchise Mad Max sebelumnya, yang ketiganya dirilis pada tahun 1980an, karena alasan saya lahir setelah ketiganya menjadi legenda dan saya bukan penggila film sehingga tak pernah mau repot-repot menonton film jadul. Tapi ada dua alasan yang membuat saya sangat ingin menonton Mad Max: Fury Road; pertama adalah karena semua orang membicarakannya, dan yang kedua adalah karena pemeran utamanya adalah Tom Hardy.

Sejak menontonnya berakting solo dengan luar biasa di Locke (2014), film yang selalu saya sebut sebagai salah satu yang terbaik yang pernah saya tonton, saya sangat menanti aksi Tom Hardy di film-filmnya berikutnya. Fury Road adalah film besar berikutnya yang ia bintangi sebagai pemeran utama, dan untuk alasan itulah saya sangat menantinya. Tentu, saya menantikan akting apik Hardy lagi di film ini, berharap saya bisa mendapatkan sensasi yang sama seperti ketika saya “jatuh cinta” padanya di Locke.

Tetapi harapan saya salah; Tom Hardy, yang berperan sebagai Max Rockatansky, bukanlah bintang utama Fury Road, bahkan meski ini adalah bagian dari franchise Mad Max. Ini, meminjam kata-kata Rana, adalah filmnya Charlize Theron, yang berperan sebagai Imperator Furiosa.

Furiosa memang menjadi perhatian utama di sebagian besar dari 120 menit film ini berjalan. Meski Max mungkin tetap digambarkan sebagai protagonis utama – dengan pergulatannya dan bayangan-bayangan buruknya atas tragedi yang menimpanya di masa lalu – sentral cerita Fury Road terletak pada Furiosa, sosok yang menjadi penyebab munculnya adegan kejar-kejaran hebat nan epik di sepanjang film. Protes yang muncul di internet yang menuduh Fury Road sebagai film yang mengkampanyekan feminisme pun menjadi sedikit lebih masuk akal. Dengan Furiosa, seorang wanita berambut cepak dan bertangan cacat, digambarkan sebagai imperator (komandan) sebuah pasukan yang bertugas untuk mengambil minyak di kota seberang, cukup wajar jika seorang pembela hak-hak pria (yang menulis di blog yang mengkampanyekan maskulinitas) merasa gelisah dan mengajak semua pembacanya untuk tidak menonton Fury Road.

Tetapi saya pikir isu feminisme yang diangkat di film ini tidak sebegitu parahnya sehingga harus ditakuti oleh kaum laki-laku yang takut dominasi mereka di dunia akan digusur oleh kaum perempuan. Lihat bagaimana Furiosa dan Max (serta Nux) akhirnya bekerja sama untuk kabur dari kejaran Immortan Joe dan War Boys-nya. Atau bagaimana kedua laki-laki dalam kelompok pemberontak ini tetap menjadi pahlawan besar di akhir film. Tak feminis-feminis amat, kan?

Kembali ke isu utama, porsi akting Tom Hardy memang tak begitu besar di film ini. Mungkin, akting terpentingnya hanya ketika ia berusaha kabur dari Citadel di awal film. Tapi setelah itu, Furiosa mengambil alih. Akting Charlize Theron menjadi warna utama di sepanjang film, dan ia benar-benar brilian.

Kekecewaan saya terhadap minimnya akting Hardy tak berarti membuat saya menganggap film ini jelek. Sebaliknya malah. Fury Road benar-benar luar biasa. Rasanya film ini seperti digas penuh, dari awal sampai akhir. Padahal tempo film tak terus-terusan tinggi. Faktanya, porsi adegan kejar-kejaran bertempo tinggi di Fury Road “hanya” 32% dari keseluruhan film yang berdurasi 120 menit ini. Ini yang menarik dari Fury Road: bagaimana sutradara, penulis naskah, dan produser George Miller berhasil menyelipkan tempo pelan di tengah film tanpa membuat penontonnya merasa bosan menunggu adegan kejar-kejaran berikutnya. Dua jam dan sepanjang film terasa menarik. Tentu bukan hal mudah.

Hal lain yang sangat menarik dari Fury Road adalah fakta bahwa hampir semua adegan di film ini dilakukan secara nyata tanpa efek komputer. Efek komputer hanya digunakan di beberapa bagian film, seperti di adegan badai pasir besar yang dengan nekat ditembus oleh Furiosa dan para pengejarnya. Bahkan gitaris gila yang memberikan musik pengiring armada Immortan Joe pun ternyata memberikan musiknya secara nyata, live. Berbicara soal gitaris gila ini, yang belakangan diketahui dinamakan The Doof Warrior, bisa dikatakan bahwa ia adalah salah satu dari beberapa alasan mengapa Fury Road adalah film membuat para penontonnya kegirangan dan tak bosan untuk membicarakannya pasca menonton film ini. Mungkin ini untuk pertama kalinya ada sebuah film action yang menyelipkan sebuah mobil dengan sound system raksasa di atasnya, plus para drummer di bagian belakang dan seorang gitaris buta yang melayang-layang dengan bantuan semacam tali karet atau semacamnya, yang memainkan musik metal dengan gitar dua leher yang bisa menyemburkan api. Ini luar biasa, kawan. Ini luar biasa.

Mungkin ini bisa menjadi ide untuk para tentara yang sedang berperang – membawa The Doof Warrior dan mobil gilanya untuk membangkitkan semangat pasukan mereka.

Film ini gila.

Advertisements

5 thoughts on “Mad Max: Fury Road yang Mengkhianati Ekspektasi

  1. film nya memang keren ini mas, yup tapi si pemeran musuhnya batman terlalu cool di film ini ya (salam kenal mas just blog walking) 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s