Membincangkan Real Madrid, Liverpool, David De Gea, dan Raheem Sterling

Kita telah tiba di penghujung musim sepakbola Eropa. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, ini adalah masa-masa ketika kita mulai mereview perjalanan beberapa tim dengan kasus menarik, dan membicarakan masa depan beberapa pemain bintang yang kerap diisukan akan hengkang. Malam tadi (19/5/2015) saya kembali diundang ke Berita Satu TV untuk membicarakan beberapa topik menarik: melihat kembali permasalahan yang mendera Real Madrid dan Liverpool, serta menebak-nebak masa depan David De Gea dan Raheem Sterling. Berikut rangkuman pembahasan tersebut.

Musim Tanpa Gelar Real Madrid

Real Madrid harus mengakhiri musim tanpa gelar tepat setelah musim penuh kesuksesan mereka di mana mereka merebut gelar Liga Champions Eropa kesepuluh yang telah dinanti-nantikan selama 12 tahun. Ini tentu saja menjadi prestasi yang terlihat sangat buruk bagi El Real, terutama bagi Carlo Ancelotti, yang terus-terusan mendapatkan tekanan karena ketidakjelasan masa depannya di Santiago Bernabeu. Apa masalahnya?

Real Madrid bermain luar biasa di paruh pertama musim ini. Sebelum pergantian tahun, mereka mencatatkan rekor baru bagi klub Spanyol dengan meraih 22 kemenangan beruntun di semua kompetisi, yang diakhiri dengan gelar Piala Dunia Antar Klub FIFA 2015. Dalam 22 pertandingan tersebut, Madrid mencetak 81 gol dan hanya kebobolan 10 gol. Rekor itu berakhir secara tak resmi di laga persahabatan melawan AC Milan menjelang tahun baru, dan secara resmi berakhir dengan dua kekalahan beruntun di tangan Valencia dan Atletico Madrid. Setelah itu, perjalanan mereka naik turun, dan sampai akhir pekan kemarin, Cristiano Ronaldo dkk. hanya mencatatkan 18 kemenangan, 7 kekalahan, dan 5 hasil imbang. Dari 30 laga, total gol yang mereka sarangkan “hanya” 66 gol, menurun drastis dari apa yang mereka catatkan sebelum pergantian tahun.

Cederanya Luka Modric bisa dikatakan sebagai menjadi salah satu masalah utama Real Madrid di paruh kedua musim. Tanpa Modric, Toni Kroos harus bekerja ekstra, dan tidak ada satupun pemain di bench Madrid yang mampu menutupi celah yang muncul karena absennya gelandang asal Kroasia tersebut. Keseimbangan Madrid pun hilang, dan ini membuat mereka rapuh.

Masalah lainnya adalah kelelahan para pemain. Bukan rahasia lagi jika Kroos terlihat benar-benar kepayahan di paruh kedua musim ini. Permainan apiknya yang sudah muncul di awal musim hilang. Para pemain lainnya pun sama – menurunnya permainan Madrid di babak kedua pertandingan melawan Barcelona dan Juventus menjadi contoh sahihnya. Ini adalah imbas dari jarangnya Carlo Ancelotti merotasi skuatnya. BBC (Karim Benzema, Gareth Bale, dan Cristiano Ronaldo) akan terus dimainkan selama mereka bisa bermain. Toni Kroos tak tergantikan, karena memang tak ada yang bisa menggantikan. Iker Casillas pun mendapatkan status yang sama, walau ia kerap mendapatkan cemoohan dari para fans sendiri.

Mengapa Ancelotti enggan melakukan rotasi? Pertama, mungkin karena mereka memang tak memiliki pelapis sepadan di bench. Kedua, mungkin juga karena tekanan dari atas.

Real Madrid adalah brand, klub impian para pecinta sepakbola dengan bintang-bintang yang mereka miliki. Siapa yang rela Gareth Bale, pemain yang berstatus sebagai yang termahal di dunia, dicadangkan dan posisinya diisi Jese Rodriguez? Oke, Jese adalah produk asli akademi Real Madrid. Sebagian fans yang merupakan warga asli Madrid pasti sangat senang melihatnya. Tetapi bagi Florentino Perez, keputusan itu malah merugikannya, karena itu akan memelorotkan nama Bale, salah satu sumber penghasilan klubnya lewat jersey-jersey bernama punggungnya yang terjual di seluruh dunia. Ini tentu tidak bagus. Tidak bisa tidak, Ancelotti harus memainkan para pemain bintangnya – meski akhirnya itu bisa berimbas buruk bagi tim.

Target Transfer Utama Liverpool: Striker

Musim lalu Liverpool mampu mencetak 101 gol di Premier League, dan menjadi tim yang paling menyenangkan untuk ditonton. 52 dari 101 gol tersebut, alias lebih dari 50%-nya, dicetak oleh duet Daniel Sturridge dan Luis Suarez. Suarez mencetak 31 gol, Sturridge 21 gol. Musim ini, Suarez pindah, Sturridge cedera panjang – dan ketika ia kembali pun ia tidak langsung bisa bermain 100% dan akhirnya cedera panjang lagi. Maka, penurunan jumlah gol Liverpool menjadi hanya 51 gol saja dari 37 laga yang sudah berlangsung tentu bukanlah kejutan. Apalagi dengan minimnya sumbangsih Mario Balotelli, Rickie Lambert, atau Fabio Borini.

Liverpool harus mencari penyerang baru, itu sudah pasti. Bukan hanya striker yang mampu mencetak banyak gol di klub lamanya, tetapi juga striker yang cocok dengan tipe permainan Liverpool. Balotelli adalah striker bagus, mencetak banyak gol di Milan. Tapi ia bukanlah tipe penyerang yang dibutuhkan oleh tim dengan permainan serangan balik cepat ala Liverpool. Balotelli tidak memiliki kecepatan dan kemauan untuk berlari layaknya Luis Suarez, dan ini menjadi masalah utamanya.

Ini yang perlu menjadi catatan bagi Rodgers. Jadikan masalah transfer Balotelli, yang lebih seperti pembelian panik di akhir bursa transfer musim lalu, menjadi pelajaran penting.

Masa Depan Raheem Sterling dalam Tanda Tanya

Raheem Sterling adalah pemain muda yang luar biasa. Usianya masih 20 tahun, tapi ia sudah menjadi tumpuan utama Liverpool di lini depan. Ia mungkin tak (atau belum) bisa mencetak dua digit gol, tetapi statistik lainnya adalah yang nomor satu atau nomor dua di Liverpool, yang memperlihatkan bagaimana berbahayanya pemain mungil ini bagi lawan. Masalahnya, musim ini ia banyak diharapkan sebagai pencetak gol, padahal itu bukanlah keahliannya. Ia tidak memiliki penyelesaian akhir yang brilian macam Suarez atau Sturridge, tapi ia memiliki kemampuan membuka pertahanan lawan dan menciptakan peluang yang sangat baik. Apakah ini musim yang bagus bagi Sterling? Ya, bahkan meski Liverpool tak menjalaninya.

Maka bukan hal mengherankan jika ia banyak dirumorkan akan hengkang dari Anfield. Ini bukan masalah uang, katanya pada BBC beberapa waktu lalu. Ini soal trofi. Liverpool, menurut Sterling, bukanlah tempat yang pas untuk mengejar trofi, dengan instabilitas yang masih mereka hadapi di setiap musim. Melihat bagaimana ia begitu ambisius dengan trofi dan bermain di Liga Champions, wacana untuk pindah pun menjadi wajar. Liverpool tidak bisa memberikan keduanya, dan belajar dari kegagalan musim ini, ia pantas merasa pesimis.

Usianya, menurut saya, masih terlalu muda untuk terlalu mengejar trofi dan sebagainya. Tetapi salahkah jika ia ingin pindah saat ini juga? Tidak sepenuhnya. Ia mungkin memang lebih baik tetap di Liverpool dan berkembang sebagai pemain terlebih dahulu sebelum pindah ke klub yang lebih besar dan lebih mungkin meraih trofi. Tetapi tidak ada jaminan ia akan mendapatkan banyak tawaran untuk pindah seperti saat ini. Tidak ada jaminan klub yang menginginkannya saat ini akan masih menginginkannya pada satu, dua, atau tiga musim mendatang. Ini mungkin yang menjadi pikiran Sterling.

Atau barangkali, ia memang hanya ingin mendapatkan uang yang lebih banyak dari yang ditawarkan The Reds saat ini? Bisa jadi.

David De Gea: Pindah atau Bertahan?

Tanda-tanda itu sudah muncul di mana-mana: bahwa De Gea mungkin, sangat mungkin lebih tepatnya, pindah ke Real Madrid. Media-media dengan catatan bagus seperti The Guardian sudah melempar rumor ini. Louis van Gaal mengaku ia tidak mungkin bisa mempengaruhi sang kiper untuk bertahan, karena alasan yang valid: keluarganya, rumahnya, dan kekasihnya tinggal di Madrid, dan apalah yang lebih berarti daripada semua itu? Manchester United dirumorkan sudah mulai mempersiapkan nama-nama yang diincar untuk menjadi penggantinya. Ada Samir Handanovic, atau bisa juga Victor Valdes.

David+de+Gea+Manchester+United+v+Everton+Premier+Ymg2hwh0BCSx

Pilihannya sekarang kembali ke De Gea. Apakah ia ingin bertahan? “Real tidak akan mencintai De Gea seperti yang dilakukan Manchester United,” kata Van Gaal. Yang memang benar adanya. Lihat apa yang terjadi pada Gareth Bale atau Iker Casillas, misalnya. Tetapi ini soal bermain di klub terbesar di dunia, bermain di kotanya, tempat tinggalnya, orang tuanya, dan kekasihnya. Dan ini juga soal kesempatannya untuk menjadi kiper nomor satu di timnas Spanyol.

Bukan rahasia lagi bahwa Vicente Del Bosque memang lebih memfavoritkan pemain-pemain yang bermain di La Liga untuk bermain di timnas Spanyol. Lihat apa yang terjadi pada Juan Mata atau David Silva. Bermain di Real Madrid sebagai kiper utama dipastikan akan membuat De Gea menjadi kiper utama timnas Spanyol. Bagaimanapun, Casillas sudah memudar, dan De Gea dinilai sudah jauh lebih baik daripada seniornya itu. Pindah ke Real Madrid menjadi pilihan yang jauh lebih menggiurkan. Manchester United memang tidak punya harapan lain selain berharap De Gea nekat menolak semua peluang tersebut karena ia ingin menjadi bintang di lini belakang abal-abal timnya, atau karena ia tidak ingin melukai Atletico Madrid, klub yang pernah ia bela sejak kecil.

Advertisements

4 thoughts on “Membincangkan Real Madrid, Liverpool, David De Gea, dan Raheem Sterling

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s