Finale yang Emosional dan Eksplosif dari The Flash

Peringatan: Hati-hati, ada ranjau spoiler di depan.

Daredevil adalah serial tv pahlawan super terbaik yang pernah diciptakan sejauh ini. Tetapi episode terakhir serial tersebut sebetulnya tak berjalan begitu menarik – setidaknya tidak semenarik The Flash, yang sampai di ‘finale’-nya kemarin (20/5/2015) waktu Indonesia.

The Flash mungkin tak semenarik Daredevil secara keseluruhan, tetapi konsistensinya untuk menggambarkan petualangan sang speedster dengan cita rasa komik mendapatkan pujian di sepanjang musim pertamanya ini. Dan jika Daredevil seakan membagi bagian-bagian paling menarik dari serialnya di beberapa episode, Greg Berlanti, Andrew Kreisberg, dan Geoff Johns, trio produser-penulis serial ini, lebih suka untuk menyimpan bagian terbaik mereka di episode terakhir. They saved the best for the last.

And it’s worth it.

Ini yang menarik dari The Flash: meski Reverse Flash selalu digambarkan sebagai musuh utamanya, tetapi sebetulnya pertarungan yang terjadi antara Barry Allen dan Eobard Thawne sangatlah terbatas. Lihat, misalnya, bagaimana mudahnya Reverse Flash dikalahkan – tinggal panggil dua temanmu yang berkemampuan super (Oliver Queen setidaknya bisa dikatakan memiliki kemampuan bertarung di atas manusia kebanyakan) dan Reverse-Flash pun kalah. Porsi pertarungan yang sebenarnya mungkin hanya beberapa menit saja. Hal yang sama pun terjadi di episode terakhir ini. Sekilas, hal tersebut mungkin bisa menjadi pertanyaan. Tetapi di sanalah letak menariknya serial ini. Konflik utama yang terjadi pada The Flash bukan sekadar bagaimana mengalahkan atau membunuh Reverse Flash, yang telah membunuh ibu Barry Allen di episode pertama. Tapi bagaimana Barry mengubah garis takdir dengan menyelamatkan ibunya dari kematian dan mengeluarkan ayahnya dari penjara. Menghapus memori buruknya, yang hidup tanpa kedua orang tua kandungnya.

Dari berbagai keputusan dan kemungkinan yang bisa diambil Barry Allen, Greg Berlanti dan Andrew Kreisberg, dua penulis episode terakhir The Flash, memutuskan untuk mengambil keputusan yang sangat tidak populer. Namun keputusan itulah yang membuat episode ini begitu emosional, begitu tidak tertebak. Keputusan itu juga yang membuat finale ini terasa luar biasa. Begitu luar biasa sampai saya merasa kesal ketika episode ini ditutup dengan akhir yang tidak jelas: The Flash masuk ke lubang hitam, lalu tamat. Untung kita diingatkan bahwa serial ini akan mendapatkan musim keduanya.

The Flash telah menjadi serial yang lebih dari sekadar serial pahlawan super. Ini adalah serial sci-fi yang sangat menarik. Dan episode terakhir ini menegaskannya. Perdebatan tentang timeline yang berubah karena Barry Allen kembali ke masa lalu, atau tentang musnahnya Eobard Thawne dari peradaban karena kematian Eddie Thawne, dan juga, perhatikan dialog antara Eobard dan Cisco Ramon, membicarakan bagaimana Cisco, di garis waktu yang berbeda, sudah mati dibunuh Eobard. Ini setidaknya memberikan ide untuk mengartikan apa yang dikatakan oleh Kreisberg dalam wawancaranya dengan Entertainment Weekly pasca pemutaran episode terakhir The Flash, “On Flash, you’ve never seen the last of anybody, no matter what happens to them.

Jadi, ya, Eobard Thawne, atau Harrison Wells, terserah Anda lebih suka memanggilnya apa, sepertinya akan kembali di musim kedua nanti. Dan ini adalah berita bagus. Masalahnya, Harrison Wells adalah satu dari sedikit karakter yang sangat menarik dari The Flash musim pertama ini. Setelah Caitlin Snow, tentu (oh, maaf, ini bias).

Berbicara tentang Caitlin, sepertinya di musim kedua nanti kita akan melihatnya sebagai Killer Frost, salah satu tokoh dalam komik DC. Jika Anda mencermati bayangan yang dilihat Barry Allen saat berlari kencang menembus kecepatan mach 2 di particle accelerator, Anda akan melihat sekilas dirinya beraksi dalam kostum dan mengeluarkan es dari tangannya. Musim kedua nanti kita memang sepertinya akan melihat Cisco dan Caitlin sebagai meta-human. Bagaimanapun, hal ini sudah sedikit dibocorkan oleh Wells saat ia berdialog dengan Cisco ketika keduanya membicarakan soal mesin waktu yang harus dibuat Cisco. Lalu apa kekuatan Cisco nantinya? Ini.

Dan sekarang saya benar-benar tidak sabar menanti season 2 The Flash, yang dirumorkan akan hadir awal Oktober mendatang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s