Dilema Jurnalis Online

image

Menurut saya, ada dua pengertian jurnalis online: pertama adalah para jurnalis yang melakukan pekerjaan wartawan seperti umumnya tetapi ia bekerja untuk media online (baca: terjun lapangan mencari berita), dan yang kedua, adalah para jurnalis yang membuat artikel-artikel berita untuk media online namun mengandalkan browsing berita online dari sumber lain sebagai metode pengumpulan sumber berita. Jurnalis online jenis kedua ini kini semakin banyak, terutama untuk berita-berita internasional baik itu berita sosial, hukum, politik, atau malah berita selebritas atau olahraga.

Tidak ada yang salah sebetulnya pada jurnalis online jenis kedua ini. Toh metode pengumpulan berita dengan mencari sumber dari media-media lain bukan hal baru – berita-berita internasional di koran-koran nasional pun banyak dibuat berdasarkan berita-berita dari media online ternama seperti The Guardian dan New York Post atau dari kantor berita asing seperti AP dan AFP. Artinya, para jurnalis ini tidak benar-benar terjun ke lapangan untuk mencari berita, melainkan memanfaatkan berita-berita yang sudah ada di media lain.

Tetapi permasalahan muncul ketika media online makin meraja dan jurnalis online tipe kedua ini mulai banyak (saya adalah salah satu orang yang pernah bekerja sebagai jurnalis online tipe kedua ini). Masalahnya, tidak semua penulis berita online yang menggunakan sumber-sumber dari media online lainnya tahu bagaimana semestinya mereka menulis berita berdasarkan sumber dari media lain.

Pemasalahannya bukan di teknis menulis, tetapi soal pengumpulan dan penggunaan data dalam tulisan. Generasi online, harus diakui, memang menghadirkan generasi instan, dan imbasnya pun terasa juga di media online. Penulisan berita online seringkali juga dilakukan secara instan: penulisan kerap hanya mengandalkan satu sumber saja saat menulis sebuah berita. Memang tidak semua penulis atau media melakukannya, tetapi sudah jadi rahasia umum bahwa demi kepentingan kecepatan penayangan berita, berita online kerap hanya ditulis menggunakan satu sumber saja.

Hal tersebut jelas bukan hal yang dibenarkan. Dalam penulisan verita, aspek verifikasi adalah salah satu yang terpenting untuk dilakukan, dan meski jurnalis online sering tidak bisa melakukannya, terutama jika berita yang ditulis adalah berita internasional, verifikasi semestinya bisa dilakukan dengan mencari sumber kedua dan ketiga dari media terpercaya yang berbeda. Selain untuk memenuhi fungsi verifikasi, mencari sumber lain juga penting untuk menambahkan detail yang perlu ditambahkan di berita yang dibuat.

Toh mencari sumber dari media lain sebetulnya bisa dilakukan hanya dengan melakukan berapa klik (makanya manfaatkan fitur bookmark! :p). Tidak terlalu sulit kan? Sayangnya, hal ini kadang diabaikan, dan berita pun sering ditulis berdasarkan satu sumber saja.

Kenapa? Karena jurnalis online seringkali harus menulis beberapa artikel sekaligus dalam satu waktu (terutama jika media di mana si jurnalis bekerja menggunakan sistem shift). Sepanjang pengalaman saya, seorang penulis berita online harus menuliskan berita sampai dengan 15 artikel dalam sehari (selama satu shift). Dengan jumlah artikel sebanyak itu, jurnalis online akan kesulitan jika juga harus menulis berita dengan hati-hati dan memperhatikan aspek-aspek penting jurnalistik, bahkan di tahap yang paling minimal sekalipun.

Apa boleh buat, media online memang hidup dari jumlah klik (alias kunjungan) yang masuk. Dan menurut rumus sederhana yang dianut oleh media-media online Indonesia, semakin banyak artikel yang muncul, semakin besar peluang media online mendapatkan klik dari pengunjung, terutama di era ketika media mengandalkan social media sebagai sumber klik atau kunjungan yang masuk. Artinya, media online memang memerlukan banyak artikel untuk mencapai target kunjungan yang sudah dicanangkan, yang diperlukan untuk “menjual diri” mereka ke pihak pengiklan.

Tetapi apakah kuantitas yang tinggi membuat kita harus mengorbankan kualitas? Idealnya tidak. Tetapi bayangkan kerja seorang penulis berita online, yang harus menulis 10 berita atau lebih dalam satu shift kerja (yang bervariasi antara satu media dengan lainnya. Ada yang 4 jam, ada juga yang sampai 8 jam). Bisakah yang ideal itu tercapai?

Jawabannya: sulit!

Advertisements

One thought on “Dilema Jurnalis Online

  1. Dilema yang sering terjadi bahkan di media mainstream. Adu cepat, adu banyak yang berakhir pada pengorbanan kualitas dan tidak terpenuhinya prinsip cover both side. Masalah ini harusnya menjadi perhatian dari dewan pers nasional.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s