4 Alasan Mengapa Fantastic Four (2015) Begitu Buruk – Review

Sulit untuk tidak berasumsi negatif mengenai film Fantastic Four terbaru dari 20th Century Fox dengan begitu banyaknya review buruk yang bermunculan. Bayangkan, rating di Rotten Tomatoes saja hanya 8%, sementara IMDB, yang biasanya lebih baik hati dalam urusan rating, hanya memberikan nilai 3,9 dari 10. Beberapa media di Amerika menyebutnya, an unmitigated garbage fire“, “worse than worthless“, dan “the summer’s worst movie.

Separah itukah? Saya memberanikan diri untuk masuk ke dalam bioskop lebih dari seminggu setelah film ini tayang di Indonesia dengan pikiran positif: film ini diproduksi oleh studio besar dan dengan anggaran yang masif pula (lebih dari 100 juta USD). Seburuk-buruknya sebuah film dengan anggaran begitu besar, semestinya masih bisa memberikan efek menyenangkan, walaupun sedikit. Mungkin hal negatif yang ada di film ini tidak terlalu banyak, tetapi kritikus membesar-besarkannya. Saya berekspektasi bahwa film ini semestinya akan lebih baik daripada hal-hal yang saya baca di media.

Saya salah.

Fantastic Four versi reboot ini, bagi saya, adalah film pahlawan super terburuk yang pernah saya saksikan.

Begitu buruknya film ini sampai-sampai ketika film selesai, saya melongo. “Sekarang saya tahu kenapa review atas film ini begitu buruk,” pikir saya. Karena pada kenyataannya, film ini memang begitu buruk.

Sangat buruk sampai-sampai saya berpikir bahwa film ini semestinya tidak diedarkan di bioskop, cukup diproduksi sebagai DVD.

Tapi mengapa film ini mendapat banyak review buruk dari kritikus?

1. Film superhero macam apa yang sama sekali tidak menyenangkan untuk ditonton?

Fantastic Four versi reboot ini pada dasarnya berusaha untuk menceritakan ulang asal mula Reed Richards (Miles Teller), Susan Storm (Kate Mara), Johnny Storm (Michael B. Jordan), Ben Grimm (Jamie Bell), serta sang antagonis, Victor Von Doom (Toby Kebbell), mendapatkan kekuatannya. Awal kisahnya sebetulnya cukup bagus, dengan memperlihatkan bagaimana Reed yang jenius namun tidak bisa dipahami oleh orang-orang di sekitarnya bertemu dengan Ben Grimm dan mendapatkan beasiswa di Baxter. Sayangnya, setelah itu cerita menjadi membosankan.

Film ini terlalu fokus pada perkembangan para tokoh dan melupakan hakikatnya sebagai film superhero. Alur cerita begitu lambat, sampai-sampai menghabiskan hampir 75% durasi film untuk menceritakan bagaimana mereka membuat mesin teleporter yang bisa membawa mereka ke sebuah planet baru (atau dimensi lain? Agak tidak jelas…). Imbasnya, film ini begitu membosankan untuk ditonton. Tidak banyak adegan-adegan aksi di sebagian besar film, dan hanya muncul di seperempat akhir film ketika Victor Von Doom berubah menjadi tokoh antagonis dengan kekuatan barunya. Itupun, diceritakan dengan seadanya.

2. Babak ketiga yang hancur lebur

Bagian/babak ketiga film yang menjadi titik puncak drama dalam film ini (ketika Doom kembali ke bumi dan menjadi tokoh antagonis dengan membunuh semua orang) benar-benar hancur lebur. Adegan perkelahian antara Fantastic Four dengan Doom di Planet Zero sangat tidak jelas, apalagi ditambah pula dengan efek CGI yang buruk. Sungguh lucu rasanya jika melihat bagaimana Doom terlihat begitu mengerikan ketika ia membuat kekacauan di bumi (dengan kekuatannya yang bisa membuat kepala orang pecah hanya dengan pikirannya) tetapi dengan mudahnya dikalahkan oleh FF di Planet Zero.

“Apa-apaan nih?” adalah reaksi saya ketika menyaksikan ending film. Ya. Seburuk itu.

3. Dialog yang sungguh buruk

Salah satu hal penting dari film-film Marvel adalah dialog yang dikemas dengan lucu namun cerdas. Fantastic Four adalah bagian dari Marvel, tetapi kepemilikan hak untuk layar lebar memang sudah dimiliki oleh 20th Century Fox, sehingga Marvel Studios tidak terlibat apapun dan membuat FF tidak mendapatkan keuntungan yang sama seperti film-film Marvel yang lain.

Dialog yang hadir di film-film ini memang sungguh buruk. Kegemaran Dr. Franklin Storm (ayah Sue dan Johnny, diperankan oleh Reg E. Cathey) untuk memberikan ceramah juga sangat tidak membantu. Begitu buruk dan klisenya dialog yang ada di film ini sampai-sampai di satu adegan, penerjemah film sampai menyertakan jargon, “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”.

Tapi dialog terburuk di film ini, yang juga masuk kategori salah satu dialog terburuk yang pernah saya temukan, adalah yang juga muncul di trailer film:

The US Government guy: “What if we say no?”

Johnny Storm: “Say yes.”

Nooooo!

4. Efek CGI yang medioker

Mengingat ini adalah film Hollywood dari salah satu studio film terbesar di dunia dan memiliki anggaran yang besar, semestinya efek CGI yang dimasukkan bisa membuat penonton terkesan. Tetapi pada kenyataannya, efek CGI yang ada di film ini terhitung buruk – padahal, 80% pertarungan yang dilakukan FF dan Doom di akhir film didominasi oleh efek ini. Tapi bagian yang paling akan membuat kita menyadari bagaimana buruknya efek CGI yang digunakan adalah saat Johnny Storm terbang dalam latihan yang ia lakukan dan menghancurkan beberapa drone yang diset sebagai lawannya.

Mengapa FF bisa begitu buruk?

Ini bisa dikatakan sebagai imbas dari masalah antara Josh Trank, sang sutradara, dengan pihak studio. Jika melihat laporan yang ada, Trank tidak mendapatkan kebebasan dari studio untuk berkreasi dengan berbagai alasan (misalnya, anggaran dipotong), dan imbasnya tidak menghasilkan film yang ia inginkan. Satu bagian terbesar yang tidak ada di film namun sudah direncanakan oleh Trank baru-baru ini terungkap ke publik lewat situs Entertainment Weekly. EW menjelaskan bahwa sebetulnya di antara jeda satu tahun yang muncul di tengah film setelah Reed dkk. mendapatkan kekuatannya, terdapat satu adegan aksi yang melibatkan Ben Grimm dan dipercaya bisa membuat film ini terasa lebih baik. Baca penjelasan selengkapnya mengenai adegan yang hilang tersebut di sini.

Menariknya, adegan tersebut sebetulnya masuk ke trailer resmi yang diluncurkan ke publik. Cinemablend punya gambar bergeraknya di sini:

Kredit: cinemablend.com

Kredit: cinemablend.com

Apakah jika adegan yang dipotong itu dimasukkan ke film, FF akan lebih baik?

Mungkin. Pada dasarnya, masalah utama dari film ini adalah minimnya adegan aksi yang disajikan sehingga terasa membosankan. Tetapi jika dimasukkan pun, mungkin hanya akan sedikit mendongkrak – karena secara keseluruhan, cerita film ini memang tidak istimewa sama sekali. Dan dialog-dialognya…. sungguh buruk.

Jadi, mungkin akan sedikit mendongkrak mood kita sebagai penonton di tengah film. Mungkin akan sedikit membuat film ini terasa lebih baik. Sedikit.

Ngomong-ngomong, untuk mengetahui apa yang terjadi antara Josh Trank dan 20th Century Fox, mungkin bisa membaca ceritanya di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s